Jakarta, Kemdikbud -- Tantangan
narasumber dalam menyampaikan pemahaman filosofi dan isi Kurikulum 2013
kepada instruktur nasional (IN) memang tidak mudah. Jumlah sekolah yang
besar, ditambah cakupan wilayah yang luas, serta adanya disparitas antar
daerah yang satu dengan lainnya. Untuk itu, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh meminta kepada narasumber untuk
tidak menjadikan tantangan sebagai hambatan.
"Untuk SD-nya saja sebanyak 148 ribu sekolah dan
tersebar sangat luas hingga ke tingkat desa, bahkan dusun. Oleh karena
itu, tantangan ini justru harus menjadi kesempatan terbaik untuk
mengabdi bagi nusa dan bangsa," ujar Mendikbud saat menyampaikan arahan
dalam kegiatan "Penyegaran Narasumber Kurikulum 2013 Jenjang SD" yang
diselenggarakan di Jakarta, Senin (10/3/14).
Mendikbud mengungkapkan, sesuai dengan namanya,
maka setidaknya ada dua hal yang perlu dimiliki seorang narasumber.
Pertama, mampu memperluas dan memperdalam, mulai dari konsep sampai
dengan operasional Kurikulum 2013, sehingga pemahaman konsep dari
narasumber akan sama hingga ke deretan terakhir, yaitu guru sasaran
(GS). Kedua, narasumber harus mampu memotivasi instruktur nasional (IN)
dan guru sasaran agar dapat membuka dan memperluas wawasan, serta
melakukan perubahan.
"Jangan sampai kemampuan narasumber lebih kecil
dibandingkan instruktur nasionalnya, karena nanti akan terjadi defisit.
Oleh karena itu, guru inti yang tahun lalu ada, tahun ini kita potong,
karena disitu menjadi sumber defisit. Dari instruktur nasionalnya bagus,
masuk ke guru inti tambah kempis, diberikan ke guru sasaran, tinggal
anginnya saja, habis, " ujar Mendikbud yang disambut tawa peserta.
Dalam kesempatan yang sama, Mendikbud mengutarakan
perbedaan mendasar antara Kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya.
Dalam paparannya disebutkan, Kurikulum 2013 meneguhkan pendekatan
saintifik, untuk mendorong kreativitas. Mengapa? Karena,ke depan, zaman
akan bertambah rumit mengingat jumlah penduduk yang semakin besar dan
perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin canggih.
"Kerumitan itu bisa diselesaikan dengan
kreativitas. Dari situlah, pertanyaannya, bagaimana kita mendidik
anak-anak kita menjadi lebih kreatif. Jawabannya, melalui scientific approach," papar Mendikbud.
Pendekatan saintifik berarti membiasakan anak-anak
untuk melakukan observasi atau pengamatan, bertanya, eksperimen atau
mencoba, presentasi, dan kolaborasi. Dalam membangkitkan kreativitas
anak, guru jangan sampai terjebak pada fenomena superfisial (di
permukaan), tetapi harus masuk hingga ke dalam.
Di akhir arahannya, Mendikbud kembali mengingatkan
kepada narasumber untuk secara pasti meyakini Kurikulum 2013 sebagai
kurikulum yang tepat diberikan kepada peserta didik. Jika keraguan
terhadap kurikulum ini masih ada dalam diri narasumber, dapat dipastikan
penyampaian materi kepada instruktur nasional juga tidak akan berjalan
optimal. "Yakinlah apa yang kita lakukan ini benar, Insya Allah," imbuh Mendikbud. (Ratih Anbarini) - Kemdikbud RI
KOMENTARI "Mendikbud Inginkan Narasumber Mampu Memotivasi IN dan GS untuk Buka dan Perluas Wawasan"

0 komentar:
Posting Komentar